kesadaran
coba-coba saja. silahkan didownload
“kesadaran”. moga2 berguna bagi semuanya.
coba-coba saja. silahkan didownload
“kesadaran”. moga2 berguna bagi semuanya.
Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita, matahari berada pada suatu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai kepermukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi, sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari kepermukaan bumi. Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan. Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik, cendikia, para pujangga dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendaya gunakannya dibumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita. Dan didalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas, orang menyangka kepala adalah kaki, orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain, orang tidak sengaja menjegal satu sama lain dan atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain. Didalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah, akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.
Ilir-ilir kita memang sudah ngelilir, kita sudah bangun, sudah bangkit bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur didalam aliran-aliran darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kebencian kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa zhalim untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yakni melarangnya untuk insyaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis yakni kita halangi dirinya untuk memperbaiki diri. Siapakah selain setan, iblis dan dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia, yang memblokade pintu surga, yang menyorong mereka mendekat kepintu neraka.
Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas, sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan. Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan melainkan asyiknya perpecahan, yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan prasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelengarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri. Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta melainkan memepersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahaya atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser kealam yang lebih tepat agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke bumi.
Emha Ainun Nadjib
Pemuja cinta berkata:
Siapa yang tidak mau mencicipi manisnya cinta , tidak akan bisa menikmati kehidupan ini. Kesempurnaan kenikmatan mengekor kepada kesempurnaan cinta. Orang yang paling bisa menikmati sesuatu ialah yang paling mencintai sesuatu itu. Allah membuat para nabi dan rasul-Nya mencintai istri dan kekasihnya.
Menurut golongan ini, cinta itu bisa mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta itu merupakan ujian bagi orang yang shalih. Cinta merupakan timbangan akal dan rasa. Cinta merupakan ciptaan yang mulia, sebagaimana yang dikatakan dalam syair,
Bukan karena dorongan
nafsu kubangkitkan cinta
Tapi kulihat cintu itu
adalah akhlak yang mulia
Menurut mereka, ruh-ruh orang yang dimabuk cinta adalah titik-titik embun yang lembut. Tubuh mereka ringan dan lemas. Pasangan mereka menjadi lamban untuk diarahkan. Bisa tenang jika sudah bersanding dan mengikatkan tali cinta. Ucapan mereka tertanam dipikiran, menggerakkan jiwa, mengguncang ruh dan tidak sedikit para cerdik pandai yang membicarakan keadaan mereka.
Sebagian orang berkata “cinta bagi ruh sama dengan kedudukan makanan bagi badan. Jika engkau meninggalkannya tentu akan membahayakan dirimu, dan jika engkau terlalu banyak menyantapnya tentu ia akan membinasakanmu”.
Sebagian yang lain mengatakan “ia mendorong penakut menjadi pemberani, orang kikir menjadi dermawan, mencuci pikiran orang yang dungu, memfasihkan lidah yang gagap, membangkitkan keinginan orang yang lemah, merendahkan kehormatan para raja, menampakkan kehebatan para pemberani, merupakan pintu pertama yang membelah pikiran dan kecerdikan, karenanya ada tipu daya yang halus, gejolak menjadi tenang, akhlak dan kepribadiaan menjadi tertata, ada kegembiraan yang menari-nari didalam jiwa dan kesenangan yang bersemayam didalam hati”.
Al-abbas bin Al-ahnaf berkata dalam syairnya,
Tiada manusia yang tiada
memiliki cinta
Tiada kebaikan bagi
orang yang tiada cinta
Yang lain berkata,
Tiada keindahan dan
kenikmatan didunia
Jika engkau menyendiri
tanpa perasaan cinta.
Ali bin abdah berkata “tak mungkin seseorang bisa menghindari cinta, kecuali orang yang kasar perangainya, kurang waras atau tidak mempunyai gairah”
Pencela cinta berkata:
Allah berfirman:
“Ya Rabb kami, janganlahEngkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maafkan kami”. (al-baqarah: 286)
Beban dalam ayat diatas ditafsiri dengan cinta. Yang dimaksud bukan pengkhususannya, tetapi maksudnya adalah cinta yang tidak sanggup dipikul oleh manusia. Menurut makhul, artinya dorongan birahi yang kuat.
Sabda rasulullah saw,
“Tidak selayaknya seseorang merendahkan dirinya sendiri” (HR. ahmad)
Menurut imam Ahmad, penafsirannya: tidak selayaknya seseorang menantang cobaan yang tidak sanggup dia pikul. Hal ini sama dengan keadaan orang yang jatuh cinta. Sebab dengan begitu dialah orang yang paling rendah dihadapan orang yang dicintai, agar memperoleh ridhonya, karena dasar cinta adalah merendahkan diri dan tunduk kepada kekasih, sebagaiman dikatakan seorang penyair,
Dulu kami melihatmu
terhormat dan mulia
Tiada heran jika menjadi
hina karena orang yang dicintai
Usah pungkiri kehinaan
mereka yang jatuh cinta
Rela merunduk karena
mengharap ridho kekasih tercinta
Yang lain berkata,
Permulaan cinta indah
menawan hati
Akhirnya kematian
laksana permainan
Ia bermula dari
pandangan dan canda
Menyala dihati laksana
bara api
Seperti api yang bermula
dari percikan
Jika membesar ia akan
membakar semua kayu
Penyair lain berkata,
Mataku mengalirkan
airmata darah
Setelah air mata itu
habis tercurah
Duka nestapa ada dibadan
yang kurus kering
Sebagian malam yang sepi
datang mengiring
Aku lalai beberapa waktu
telah lama berlalu
Waktu berganti dan
ingatan tetap menyatu
Sebagian yang lain berkata,
Karena cinta dia menjadi
hamba
Padahal sebelumnya dia
adalah raja
Kegarangan istana tiada
lagi menyertai
Dia dipuncak gunung
menyendiri sendiri
Pipi tertempel ditanah
berdebu
Seakan bantal-bantal
sutra untuk bertumpu
Begitulah kehinaan
menimpa orang yang merdeka
Jika cinta menimpa dia
laksana hamba sahaya
Menurut golongan ini berapa banyak cobaan cinta yang membenamkan kepala kedalam siksa neraka, menuntun mereka kepada derita yang pedih dan kegelas mereka dituangkan api yang mendidih? Berapa banyak cobaan cinta yang mengeluarkan manusia dari medan ilmu dan agamanya, seperti keluarnya selembar rambut dari tepung? Berapa banyak cobaan cinta yang menghilangkan nikmat dan mendatangkan derita? Berapa banyak orang yang turun dari tahta kehormatan hingga menjadi orang yang hina karena cinta, dan berapa banyak orang yang tadinya berkedudukan tinggi namun kemudian hanya memilki kedudukan yang rendah? Berapa banyak aurat yang terbuka, derita yang muncul kemudian hari, kegelisahan yang mendera pada akhirnya hanya ada penyesalan?
Keputusan Hukum Tentang
Dua Golongan Dan Menuntaskan Perbedaan Diantara Keduanya.
Dapat dikatakan, cinta itu tidak bisa dipuja secara mutlak dan tidak bisa dicela secara mutlak pula. Cinta dapat dipuja dan dicela menurut pertimbangan kaitannya. Sebab kehendak tergantung kepada yang dikehendaki, cinta tergantung kepada apa yang dicintai. Selagi apa yang dicintai termasuk sesuatu yang memang layak dicintai, atau sebagai sarana untuk menghantarkan kepada apa yang layak dicintai, maka cintanya yang berlebih-lebihan tidak akan dicela dan bahkan dipuji. Kebaikan keadaan orang yang mencintai juga tergantung kepada kekuatan cintanya.
Maka dari itu kebaikan hamba yang paling besar ialah jika dia mengalihkan semua kekuatan cintanya kepada Allah semata, sehingga dia mencintai Allah segenap hati, ruh dan raganya. Dia menunggalkan kekasihnya dan menunggalkan cintanya. Menunggalkan kekasih artinya tidak membilang-bilang apa yang dicintainya. Dan menunggalkan cinta artinya tidak menyisakan cinta didalam hati sehingga dia berani berkorban demi cintanya. Cinta seperti inilah yang menjadi tujuan kebaikan manusia, puncak kenikmatan dan kesenangan hatinya. Hatinya tidak merasakan memiliki kenikmatan kecuali menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang paling dia cintai dari pada yang lain. Cintanya kepada selain Allah mengikuti cintanya kepada Allah. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah, sebagaimana dalam sebuah hadist,
“Tiga perkara, siapa yang tiga perkara itu ada padanya, maka dia mendapatkan manisnya iman, yaitu: siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya. Siapa yang mencintai seseorang, dia tidak mencintainya melainkan karena Allah. Siapa yang enggan kembali kepada kekufuran itu, sebagaimana dia enggan untuk dilemparkan kedalam neraka.” (HR. bukhari, muslim, at-tirmidzy, dan an-nasa’y)
Ibnu Qayyim Al-jauziyah: Taman orang2 jatuh cinta dan memendam rindu
cukuplah dengan munculnya aliran2 beragama belakangan ini, menjadikan hujjah bagi kita bahwasanya secara fitrah manusia selalu ingin mencari kebenaran. namun ketahuilah wahai saudaraku ukuran kebenaran, ukuran kebaikan bukan lah menurut kita, menrut saya, menurut anda. kalaulah ukuran kebenaran itu menurut saya, lantas anda mengatakan kebenaran adalah menurut anda, dan yang lain mengatakan bahwa kebenaran adalah menurut mereka. alangkah relatifnya defenisi kebenaran itu. lantas kebenaran yang mana akan kita ikuti??? kebenaran haruslah berdasarkan dalil/hujjah yang datang dari Al-Qur'an dan As-sunnah. Al-qur'an yang didalamnya tidak diragukan lagi kebenarannya. berikut adalah artikel yg dikutip dari sebuah sumber, yg semoga dg artikel ini keimanan kita tetap kokoh pada yang haq, walaupun ditengah penyesatan umat.
IMAN KEPADA NABI MUHAMMAD
SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin
Abdul Qadir Jawas
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2
Muhammad
Rasulullah[1 Beliau adalah Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdillah bin
‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushayy bin
Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik
bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin
Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan, dan ‘Adnan adalah salah
satu putera Nabi Allah Isma’il bin Ibrahim al-Khalil -salam
terlimpah atas Nabi kita dan atas keduanya-.
Beliau adalah
penutup para Nabi dan Rasul, serta utusan Allah kepada seluruh
manusia. Beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, dan Rasul
yang tidak boleh didustakan. Beliau adalah sebaik-baik makhluk,
makhluk yang paling utama dan paling mulia di hadapan Allah Ta’ala,
derajatnya paling tinggi, dan kedudukannya paling dekat kepada
Allah.
Beliau diutus kepada manusia dan jin dengan membawa
kebenaran dan petunjuk, yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi
alam semesta, sebagaimana firman-Nya,
“Dan tidaklah Kami
mengutusmu melainkan untuk (men-jadi) rahmat bagi semesta alam.”
[Al-Anbiyaa': 107]
Allah menurunkan Kitab-Nya kepadanya,
memberikan amanah kepadanya atas agama Nya, dan menugaskannya untuk
menyampaikan risalah-Nya. Allah telah melindungi-nya dari kesalahan
dalam menyampaikan risalah ini, sebagai-mana firman-Nya.
“Dan
tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur-an) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanya-lah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya).” [An-Najm: 3 4]
Ahlus Sunnah beriman bahwa
Allah Ta’ala mendukung (menguatkan) Nabi-Nya dengan
mukjizat-mukjizat yang nyata dan ayat-ayat yang jelas.
Di
antara mukjizat-mukjizat tersebut dan yang terbesar adalah Al-Qur-an
yang dengannya Allah mengemukakan tantangan kepada ummat yang paling
fasih dan paling men-dalam (bahasanya) serta paling mampu bermanthiq
(ber-logika).
Mukjizat terbesar -setelah Al-Qur’an- yang
dengannya Allah menguatkan Nabi-Nya adalah mukjizat Isra’ dan
Mi’raj, yaitu dibawanya Nabi Muhammad Shallallahu oleh Malaikat
Jibril pada satu malam dari Makkah ke Baitul Maqdis kemudian ke
langit sampai ke Sidratul Muntaha. Dan beliau Shalallahu ‘alaihi wa
salam melakukan Isra’ dan Mi’raj dengan ruh dan jasadnya dalam
keadaan sadar. Juga mukjizat-mukjizat lainnya.
Keyakinan Ahlus
Sunnah Wal Jama’ah Tentang Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wa salam adalah
[1]. Keumuman Risalah Nabi
Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam.
Bahwa Nabi
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam diutus Allah ke muka bumi
untuk segenap jin dan manusia dengan membawa kebenaran, petunjuk dan
cahaya yang terang. Dalil tentang keumuman risalah beliau Shalallahu
‘alaihi wa salam adalah firman Alla Subhanahu wa Ta’ala
"Dan
Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh ummat manusia,
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi
kebanyakan ma-nusia tiada mengetahui.” [Saba’: 28]
[2]
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Aku
dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang
pun dari Rasul-Rasul sebelum-ku, yaitu (1) aku diberikan pertolongan
dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan, (2)
dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk
tayammum-pent.), maka siapa saja dari ummatku yang mendapati waktu
shalat, maka hendaklah ia shalat, (3) dihalalkan rampasan perang
bagiku dan tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku, (4)
dan aku diberikan kekuasaan memberikan syafa’at (dengan izin
Allah), (5) Nabi-Nabi diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan aku
diutus untuk seluruh manusia.”[3]
Mereka (Ahlus Sunnah)
mengimani dan meyakini bahwasanya beliau Shalallahu ‘alaihi wa
salam adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Ahlus Sunnah menyaksikan dan
meyakini bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah
Rasul yang paling mulia dan peng-hulu seluruh makhluk.
Beliau
Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dua
sifat ini (hamba dan utusan) untuk menolak adanya sifat ghuluw
(melampaui batas) dan tafrith (melalaikan hak-hak beliau Shalallahu
‘alaihi wa salam).
[2]. Ahlus Sunnah Meyakini
Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Aalaihi Wa Sallam Adalah Penutup Para
Nabi ‘Alaihimus Sallam
Setiap orang yang mendakwahkan
adanya kenabian sesudah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka
yang demikian itu adalah sesat dan kufur. Allah Azza wa Jalla
berfirman.
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari
seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan
penutup para Nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
[Al-Ahzaab: 40]
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam menyebutkan
akan adanya dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai Nabi, kemudian
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“...Dan
sesungguhnya akan muncul pada ummatku pendusta yang jumlahnya tiga
puluh orang, mereka semua mengaku sebagai Nabi, sedangkan aku adalah
penutup para Nabi dan tidak ada Nabi sepeninggalku.”[4]
Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda.
“Aku memiliki lima
nama: aku Muhammad (yang terpuji), aku adalah Ahmad (yang banyak
memuji), aku adalah al-Maahi (penghapus) dimana melalui
perantaraan-ku Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Haasyir
(pengumpul) yang mana manusia akan dikumpulkan di hadapanku. Aku juga
mempunyai nama al-‘Aaqib (belakangan/penutup) -tidak ada lagi
Nabi yang datang sesudahku-.”[5]
[3]. Ahlus
Sunnah Berkeyakinan Bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam
Tidak Mengetahui Masalah Yang Ghaib Semasa Hidupnya Kecuali Yang
Diajarkan Oleh Allah Azza wa Jalla, Apalagi Setelah Beliau Shalallahu
Alaihi Wa Sallam Wafat.
Allah Azza wa Jalla
berfirman.
“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu
bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku
mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa
aku ini Malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah
diwahyukan kepadaku.’...” [Al-An’aam: 50][6]
Kalau
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui masalah
yang ghaib, maka apalagi orang lain. Karena yang mengetahui masalah
yang ghaib hanya Allah Azza wa Jalla semata.
Firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
“Katakanlah: ‘Tidaklah ada seorang
pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali
Allah.’ Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan
dibangkitkan.” [An-Naml: 65]
[4]. Wajibnya
Mencintai Dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam
Serta Larangan Ghuluw (Berlebih-lebihan)
Ahlus Sunnah
wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya mencintai dan mengagungkan
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kecintaan dan
pengagungan terhadap seluruh makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Akan tetapi dalam mencintai dan mengagungkan beliau Shalallahu
‘alaihi wa salam tidak boleh melebihi apa yang telah ditentukan
syari’at, karena bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam seluruh
perkara agama akan menyebabkan kebinasaan.
Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Tidaklah beriman
seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya melebihi
kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh
manusia.”[7]
Pertama-tama, wajib bagi setiap hamba mencintai
Allah dan ini merupakan bentuk ibadah yang paling agung. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang
beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
[Al-Baqarah:165]
Ahlus Sunnah mencintai Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam dan mengagungkannya sebagaimana para Sahabat
Radhiyallahu ‘anhum mencintai beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam
lebih dari kecintaan mereka kepada diri dan anak-anak mereka,
sebagaimana yang terdapat dalam kisah ‘Umar bin al-Khaththab
Radhiyallahu ‘anhu, yaitu sebuah hadits dari Sahabat ‘Abdullah
bin Hisyam Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami mengiringi Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa salam, dan beliau menggandeng tangan ‘Umar
bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ‘Umar berkata
kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah,
sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab: ‘Tidak, demi yang
jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi
dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata kepada beliau: ‘Sungguh sekaranglah
saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sekarang
(engkau benar), wahai ‘Umar.’”[8]
Berdasarkan hadits di
atas, maka mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah
wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu
selain kecintaan kepada Allah, sebab mencintai Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam adalah mengikuti sekaligus ke-harusan dalam
mencintai Allah. Mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
adalah cinta karena Allah. Ia bertambah dengan bertambah-nya
kecintaan kepada Allah dalam hati seorang mukmin, dan berkurang
dengan berkurangnya kecintaan kepada Allah.
Orang yang beriman
akan merasakan manisnya iman apabila hanya Allah dan Rasul-Nya yang
paling ia cintai.
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda
“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada
pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1)
hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.
(2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena
Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam
api.”[9]
Mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
mengharuskan adanya peng-hormatan, ketundukan dan keteladanan kepada
beliau serta mendahulukan sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam
atas segala ucapan makhluk, serta mengagungkan
Sunnah-Sunnahnya.
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata: “Setiap kecintaan dan pengagungan kepada manusia hanya
dibolehkan dalam rangka mengikuti kecintaan dan pengagungan kepada
Allah. Seperti mencintai dan mengagungkan Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam, sesungguhnya ia adalah penyempurna kecintaan dan
penga-gungan kepada Rabb yang mengutusnya. Ummatnya men-cintai beliau
Shalallahu ‘alaihi wa salam karena Allah telah memuliakannya. Maka
kecintaan ini adalah karena Allah sebagai konsekuensi dalam mencintai
Allah.”[10]
Maksudnya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
meletakkan kewibawaan dan kecintaan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi
wa salam, karena itu tidak ada seorang manusia pun yang lebih
dicintai dan disegani dalam hati para Sahabat kecuali Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa salam[11]
[Disalin dari buku Prinsip
Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264
Bogor 16001, Cetakan ke 2]
_________
Foote Note
[1].
Pembahasan ini diringkas dari kitab al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis
Salaafish Shaalih Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 84-87) dan
‘Aqiidatut Tauhiid dengan beberapa tambahan dari kitab-kitab
lain.
[2]. Lihat juga QS. Al-Anbiyaa’: 107 dan al-Ahqaaf:
29-31.
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 335) dan Muslim (no. 521), dari
Sahabat Jabir bin ‘Abdillah al-Anshari Radhiyallahu 'anhu, lafazh
ini milik al-Bukhari.
[4]. HR. öAhmad (V/278), Abu Dawud (no.
4252), Ibnu Majah (no. 3952), dengan sanad yang shahih menurut syarat
Muslim, dari Sahabat Tsauban Radhiyallahu 'anhu. Ketahuilah bahwa di
antara dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai Nabi adalah Mirza
Ghulam Ahmad al-Qadiyani al-Hindi, yang muncul ketika kolonial
Inggris menjajah India. Pada awalnya ia mengaku sebagai al-Mahdi
al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), kemudian mengaku sebagai
Nabi ‘Isa Alaihis Sallam, dan terakhir ia mengaku sebagai Nabi dan
mendirikan aliran Ahmadiyah... Mereka (kaum Ahmadiyah) mempunyai
keyakinan-keyakinan bathil yang banyak sekali dan menyalahi keyakinan
ummat Islam. Mereka menafikan tentang dibangkitkannya jasad manusia
dari kubur (nanti pada hari Kiamat), mereka meyakini bahwa nikmat dan
siksa hanya dialami oleh ruh saja, mereka beranggapan bahwa siksaan
terhadap orang kafir terbatas, mengingkari adanya jin dan lain
sebagainya. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (IV/252) oleh
Syaikh al-Albani.
Pendapat para ulama bahwa Mirza Ghulam Ahmad
(1839-1908 M) adalah kafir, juga aliran Ahmadiyah pun kafir, mereka
disebut sebagai MINORITAS NON MUSLIM!!!
Di antara
keyakinan-keyakinan sesat Ahmadiyah adalah:
[a]. Meyakini bahwa
Allah puasa, tidur, menulis, dapat bersalah dan lainnya. Mereka
menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Ta’aalal-laahu ‘amma
yaquuluuna ‘uluwwan kabiiran.
[b]. Meyakini bahwa Nabi Muhammad
bukanlah Nabi terakhir, dan mereka meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad
adalah Nabi terakhir dan paling utama.
[c]. Mereka memiliki kitab
suci tersendiri yang berbeda dengan Al-Qur-an ummat Islam, mereka
menamakannya Kitaabul Mubiin.
[d]. Menurut mereka, tidak ada jihad
dalam Islam, dan telah dihapus.
[e]. Setiap Muslim adalah kafir
-menurut mereka- sampai masuk aliran Ahmadiyah al-Qadiyani.
[f ].
Mereka menghalalkan khamr, narkoba, barang yang memabukkan, dan
lainnya.
Ahmadiyah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
Yahudi, Nashrani, dan aliran kebathinan. (Lihat al-Mausuu’ah
al-Muyassarah fil Adyaan wal Madzaahib wal Ahzaabil Mu’ashshirah
I/419-423, cet. WAMY, th. 1418 H.)
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 3532),
Muslim (no. 2354) dan at-Tirmidzi (no. 2840), dari Sahabat Jubair bin
Muth'im Radhiyallahu 'anhu. Penjelasan dalam tanda kurung adalah
penjelasan dari Imam az-Zuhri yang terdapat dalam riwayat Muslim dan
at-Tirmidzi. Lihat Fat-hul Baari (VI/557) cet. Darul Fikr.
[6].
Lihat juga QS. Al-A’raaf: 188 dan Jin: 26-27.
[7]. HR.
Al-Bukhari (no. 15), Muslim (no. 44), Ahmad (III/275) dan an-Nasa-i
(VIII/114-115), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu
[8].
HR. Al-Bukhari (no. 6632), dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam
z.
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43 (67)), at-Tirmidzi
(no. 2624), an-Nasa-i (VIII/96) dan Ibnu Majah (no. 4033), dari
hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu
[10]. Jalaa’ul Afhaam
fii Fadhlish Shalaati was Salaam ‘alaa Muhammad Khairil Anaam (hal.
297-298), tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman.
[11]. Aqiidatut
Tauhiid (hal. 150), oleh Dr. Shalih al-Fauzan
Sumber
:
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1950&bagian=0
Defenisi kemerdekan setiap orang sangat subjektif sifatnya. Mungkin bagi orang miskin makna kemerdekaan adalah tatkala dirinya bisa lepas dari kemiskinan, bagi seorang pengangguran makna kemerdekaan adalah tatkala dirinya bisa memperoleh pekerjaan, seorang napi, makna kemerdekaan baginya adalah tatkala ia bisa keluar dari penjara, lantas timbul pernyataan, apa sebenarnya defenisi kemerdekaan secara objektif, yang bisa diterima oleh setiap orang?
Seorang ulama salaf yakni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang hidup pada abad ke tujuh hijriah mengatakan:
“keterbudakan dan penghambaan pada hakekatnya adalah keterbudakan dan penghambaan hati, tatkala hati menjadikan diri seseorang sebagai budak dan sahaya, maka ia adalah budak hatinya”
Oleh sebab itu, ada yang mengatakan:
Hamba itu menjadi bebas ketika ia qana’ah
Dan orang yang bebas akan menjadi budak ketika ia tamak
Seorang penyair berkata:
Kutaati ambisi-ambisiku, akhirnya ia memperbudakku
Seandainya saja aku qana’ah, tentu aku merdeka
Diriwayatkan dari umar bin khatab, bahwa ia berkata :
“ketamakan adalah kefakiran, dan tidak banyak berharap adalah kecukupan, dan sungguh seorang dari kalian apabila tidak menaruh harap kepada sesuatu ia tidak akan merasa butuh kepadanya.”
Dalam shahih bukhari diesbutkan bahwa Rasulullah bersabda:
“celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, calakalah hamba qathifah, celakalah hamba pakaian. Sungguh ia celaka dan sakit apabila ia tertusuk duri maka tidak bisa dicabut, jika diberi merasa ridha dan bila tidak diberi marah”
Beliau menamakannya sebagai budak dirham, budak dinar, budak qathifah dan budak pakaian. Beliau menyebutkan “ia celaka dan sakit, jika tertusuk duri maka tidak bisa dicabut”, ini adalah kondisi orang yang ditimpa keburukan kemudian tidak bisa keluar dari sana dan tidak berhasil keluar karena ia celaka dan sakit ia tidak memperoleh yang dicari dan juga tidak terlepas dari hal yang tidak disukai, ini adalah penghambaan harta, dan Rasulullah mensifati orang seperti ini “jika diberi merasa senang dan jika tidak diberi marah”..
Semoga kita tidak menjadi budak dari hati kita, yang dengannya ini kita sesekali tidak akan pernah merasa merdeka..
Maraknya iklan2 operator selular saat ini tentu sangat berpengaruh pada pola pikir masyarakat yang notabene merupakan customer operator selular. berbagai keunggulan ditawarkan seperti tariff murah /detik, satu jam satu tariff, bonus bicara, bonus sms, dan sebagainya. Tiap-tiap operator berlomba-lomba menawarkan tariff murah yang disertai dengan bonus atau hadiah. Ketatnya persaingan antar operator ini membuat mereka harus sebisa mungkin menawarkan “rayuan” kepada customer dengan kemasan iklan yang menarik, yang kadang inti dari iklan yang ditawarkan agak “disamarkan” sseperti keterangan ketentuan dan persyaratan yang berlaku. Nah….berikut ini adalah syarat dan ketentuan yang berlaku pada masing2 operator selular, yang dikutip dari majalah “Mobile Guide”. Semoga blog ini sedikit berguna bagi kita dalam hal menetukan operator mana yang akan dipilih.
Simpati:
Tariff gratis telepon dan
sms kesesama pelanggan telkomsel antara jam 22.00-07.00, berlaku
sampai 30 september 2007. tariff sms Rp 49/sms pada pukul 23.00-07.00
berlaku hingga 30 september 2007
Kartu AS:
Bonus 100 sms gratis
berlaku sampai 31 agustus 2007. bonus 100 sms gratis yang diperoleh
hanya dapat digunakan selama periode bulan berjalan (1-30 jun 2007,
1-31juli2007, dan 1-31 agustus 2007). Dan tidak dapat digunakan pada
bulan berikutnya. Tariff sms berlaku sampai 30 september 2007
Mentari:
Ke sesama selular indosat
(mentari,IM3 dan matrix) Rp 50/30 detik. Dengan mendaftarkan terlebih
dahulu maksimum 4 nomor tujuan, berlaku hingga 31 agustus 2007.
Bebas:
Tariff ke sesama
pelanggan XL Rp 45/sms berlaku hingga 14 Oktober 2007.
Jempol:
Tariff 45/sms ke sesama
XL(jempol,bebas,Xplor)jam 22.00-06.00 berlaku hingga 14 oktober 2007
Three:
Tariff sms berlaku hingga
31 agustus 2007
Starone:
Tariff berlaku sampai 30
juni 2007
Fren:
Tariff ke sesama fren Rp5
/30 detik dan keselular lain/PSTN/fixed wireless lain Rp10/detik
berlaku sampai 30 juni 2007. dan berlaku pada menit ke-6 dan
seterusnya. Untuk selular lain menit ke-1 sampai ke-5tarifnya Rp20
/detik.
Sabtu, 5 mei 07, 18:45
Mungkin banyak diantara kita bertanya-tanya, bagaimana sih system jual beli pada masa jahiliyah dulu? Apa pakai uang ? atau pakai system barter? Lantas kalau pake uang gimana ukurannya?
“Dari berbagai sumber sejarah diketahui bahwa mata uang pada masa jahiliyah dan pada masa permulaan islam, terdiri dari dua macam : dinar dan dirham. Mata uang dirham terbuat dari perak, terdiri dari tiga jenis: bughliyah, jaraqiyah, dan thabariyah. Bhughliyah beratnya 4,66 gram, jaraqiyah beratnya 3,40 gram, dan thabariyah beratnya 2,83 gram. Penduduk makkah berbisnis dengan menggunakan beratnya, bukan pada jumlahnya. Kesimpulan dari berbagai pendapat ulama, berat dirham yang dianggap sesuai dengan syariat adalah 55 biji gandum yang sedang. Sepuluh dirham sama dengan 7 mitsqal emas. Satu mitsqal emas beratnya sama dengan 72 biji gandum. Penetapan ini berdasarkan penuturan ibnu khaldun. Uang-uang perak banyak beredar dan digunakandi arab pada masa kenabian. Oleh karena itulah imam ‘atha menyatakan “sesungguhnya pada masa itu yang ada adalah perak bukan emas.” (mushannaf ibnu abi syaibah,III/222).
Sedangkan mata uang dinar terbuat dari emas. Pada masa jahiliyah dan pada permulaan islam, syam dan hijaz menggunakan mata uang dinaryang seluruhnya adalah mata uang romawi. Mata uang ini dibuat di negeri romawi, berukiran gambar raja, bertuliskan huruf romawi. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab At-Tahmid: “Kata dinar adalah arabisasi dari kata denarius. Dinar adalah mata uang romawi kuno, dan masih berlaku disebagian Negara eropa. Dalam injil disebutkan nama dinar berkali-kali. Dinar ditimbang dalam satuan mistqal. Satu mistqal sama dengan 72 biji gandum yang sedang. Tidak ada perubahan pada masa jahiliyah dan pada masa permulaan islam.” Dalam Ensiklopedi islam disebutkan bahwa dinar Bizantium beratnya 4,55 gram (lihat arikel “Dinar” IX:27). Perbandingan antara dirham dengan dinar adalah 7:10. jadi berat satu dirham sama dengan 7/10 mistqal. Beratnya pernah diturunkan oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan sesudah perbaikan-perbaikan yang dilakukan menjadi 4,25 gram. Mengenai perbandingan harga atau nilai tukar, telah ditetapkan dalam kitab-kitab sunnah dan Mazhab-mazhab ahli fiqih.
Secara histories diketahui bahwa satu dinar pada masa itu setara dengan 10 dirham. Dalam sunan abi dawud, terdapat riwayat dari Amru Bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan: “Harga kuda pada masa Rasulullah saw adalah 800 dinar atau 8000 dirham. Seperti itu pula yang berlaku pada masa sahabat dan orang-orang setelah mereka, sampai adanya kesepakatan tentang nilai tukarnya.”
Petunjuk yang lebih jelas tentang dinar dan dirham, tentang kadar wajib untuk dizakati, terdapat dalam haadist-hadist terkenal dan pendapat-pendapat jumhur ulama dari kalangan ahli fiqih. Disebutkan bahwa nishab (batas minimal harus berzakat) emas adalah 20 dinar. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa satu dinar pada masa jahiliyah dan pada masa permulaan islam, sama dengan 10 dirham. Imam Malik menyataklan dalam Al-Muwatha’:
“Sunnah yang tidak diperdebatkan menurut kami, bahwa zakat wajib pada harta senilai 20 dinar, sebagaimana juga diwajibkan pada nilai 200 dirham.”
Untuk lebih terperinci silahkan baca dalam kitab-kitab: Bulughul Arbi fi Ma’rifati Ahwal al-‘Arab karya Al-Alusi, At-Taratib Al-idariyyah karya Abdul Hayyi al-Kattani, fiqih az-Zakah karya yusuf Al-Qaradhawi, Tafsir al-Majidi karya al-Majidi, dan sumber-sumber lainnya tentang fiqih zakat.”
Senin 26 maret 2007, 18:40 WIB
Zodiak merupakan salah satu bentuk sihir ramalan, didalamnnya berisi berita-berita palsu seperti keuangan(rezeki), jodoh, dsb…karena sihir menurut bahasa merupakan sesuatu yang yang halus atau tersembunyi. Padahal perkara rezeki maupun jodoh adalah perkara ghaib yang tidak ada satu orang pun mengetahuinya. Bahkan…Rasulullah pun tidak mengetahui perkara ghaib.
Firman Allah dalam surat AL
“katakanlah:’Aku tidak mengatakan padamu, bahwa perbendaharaan Allah
ada padaku, dan tidak (pula) aku
mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan padamu bahwa aku
seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’
Katakanlah: ‘apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ maka
apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”
Juga dalam surat
“katakanlah:’aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan
tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya
aku mengetahui yang ghaib tentulah aku melakukan kebajikan
sebanyak-banyaknyadan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain
hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang
beriman.”
Dalam surat
“katakanlah:’tidak seorangpun dilangit dan dibumiyang mengetahui
perkara ghaib kecuali Allah,’ dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan
dibangkitkan.”
Bahaya sihir:
“Barangsiapa yang mendatangi orang pintar/tukang ramal atau dukun, lalu
ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia sungguh telah kafir dengan apa
yang diturunkan kepada nabi Muhammad” (HR Ahmad)
Firman Allah dalam surat
“Dengan patuh, tunduk kepada Allah, tiada mempersekutukan-Nya.
Barangsiapa mempersekutukan Allah (syirik) seolah-olah dia terjun dari langit,
lau disambar burung atau diterbangkan angin ketempat yang amat jauh.”
Mungkin ini sedikit tentang bahaya mempercayai zodiak dari sekian banyak dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan hadist. Sungguh kalau dulu orang yang mendatangi dukun, sekarang ini malah lebih dahsyat lagi, dukun-dukun yang mendatangi kita melalui majalah, koran, televisi dsb. Kalau kita tidak mengetahui apa itu tauhid sulit rasanya bisa terhindar dari syirik.
"seperti padi makin tua makin merunduk". tapi sayangnya....peribahasa ini tidak diartikan seperti biasanya. Semakin tua/semakin menjelang semester akhir, diri ini benar-benar semakin merunduk, semakin malas untuk berdiri tegak, semakin malas untuk menatap masa depan, rasanya tidak ada percepatan yang dilakukan. g tau pa sebabnya, apakah hanya perasaan atau memang suatu kenyataan?. Tapi….aq trus berusaha dan berdoa kepada Allah seperti doa yang diajarkan Rasulullah “Ya Allah, aq berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah puas, serta doa yang tidak dikabulkan” Amin………..
Selasa 6feb07, 06:35wib
“Adam Air ditemukan”, ya….ini mungkin yang kita baca atau kita lihat disebagian siaran berita televisi nasional beberapa waktu yang lalu. Tapi…ternyata apakah benar berita itu?wah…ternyata jauh dari dugaan yang ditemukan bukan pesawat adam air tetapi “serpihan pesawat adam air”, itupun hanya sebagian kecil atau mungkin tidak lebih dari lima persen dari keseluruhan badan pesawat. Berita ini sempat membuat keluarga korban menjadi sedikit senang, namun setelah kenyataan terungkap keluarga korban bersedih kembali. Dan…siapa yang disalahkan dalam hal ini?ya…lagi2x pemerintah! Padahal siapa yang menyebarkan berita “adam air ditemukan”, jawabannya tidak lain adalah media massa. Atau mungkin kasus lain, kita masih ingat ketika beberapa bulan yang lalu jogja dilanda gempa. Hampir seluruh televisi nasional menyiarkan tentang “jogja berduka”. Yang ditayangkan adalah bangunan-bangunan yang hancur, korban-korban yang terluka, juga dengan seluruh kesedihan-kesedihan rakyat jogja. Tentu tayangan ini sontak membuat para orangtua yang anak-anaknya kuliah dijogja menjadi sangat panik. Media massa tidak menayangkan sisi lain dari jogja, dimana masih banyak gedung-gedung berdiri, masyarakat yang selamat, serta kehidupan yang normal seperti biasa. Disini kita lihat betapa dahsyatnya peranan media massa dalam mempengaruhi pola pikir masyarakat. Media massa sering kali membuat berita yang biasa menjadi sangat luar biasa, dan inilah yang disebut oleh sebagian orang dengan semiotika berita (seni dalam menyampaikan berita). Hal ini tentu boleh-boleh saja kalau sesuai dengan kapasitas berita yang akan disampaikan. Tapi….kenyataannya media massa sering kali mendramatisir, baik mengurangi ataupun menambahi berita yang akan disampaikan. Tentu…kita selaku “customer” berita harus ekstra hati-hati memfilter berita yang disampaikan oleh media massa, supaya kita tidak terjebak oleh berita yang tidak sesuai kenyataannya.
Ku tersadar hari ini…
Aku tersadar dan berlari menjauh…
Tetapi ada sesuatu yang menarikku kembali…
Suara yang mengatakan alasan yang kulupakan….
Yang kutahu adalah bahwa kau tak disini untuk berkata…
Apa yang biasanya selalu kau katakan….
Tetapi semua itu tertulis dilangit malam ini…
Maka aku tak akan menyerah….
Aku tak akan patah semangat….
hidup berubah lebih cepat dari yang kita perkirakan….
Dan aku akan menjadi lebih kuat….
Sekalipun semuanya tak sesuai rencana….
Saat aku berdiri dalam kegelapan,
Aku akan senantiasa percaya…
Ada yang menjagaku…..
Sepertinya aku melihat seberkas cahaya….
Dan cahaya itu menyinari jalan hidupku…
Selalu setia menyinari hidupku…
Kini aku tak akan takut lagi….
Untuk mengikuti kemanapun cahaya itu membawa pergi….
Aku yakin masa lalu telah berlalu……
Dan masa kini adalah milikku….
Untuk mewujudkan semua impianku….
Tak jadi soal apapun kata orang….
Tak jadi soal betapapun lamanya….
Percayalah pada dirimu sendiri, dan kau akan terbang tinggi….
Yang terpenting adalah ketulusan hatimu….
Jujurlah pada dirimu sendiri, dan ikutilah kata hatimu….
Hillary Duff
Bismillahhirrahmanirrahim.
Ada pemandangan menarik yang dapat disimak dari serangga yang bernama laron. Sebuah perilaku aneh terjadi ketika laron menemukan cahaya. Secara masal ribuan laron berbondong-bondong terbang menuju lampu panas. Mereka merebut menabraknya, dan dak….laron-laron itupun mati bergiliran, sulit mencari penjelasan kenapa laron senekad itu. Dan itu terus berulang dari generasi ke generasi, tanpa sediktipun mengambil pengalaman dari generasi sebelumnya. Padahal naluri mahluk hidup selalu menginginkan kehidupan bertahan selamanya. “apa laron tidak suka kehidupan?” mustahil….justru pelajaran laron bisa berharga buat manusia. Sepertinya Allahua’lam. Allah mengajak manusia untuk berfikir lewat perilaku laron. Jangan seperti laron karena itu bisa membahayakan. Serangkaian perilaku itu antara lain, laron salah menafsirkan dari dunia gelap kedunia terang, suasana gelap dari rongga-rongga kayu yang selama ini mengungkung, menimbulkan uforia dahsyat tentang terang. Terang menjadi sangat-sangat menarik, tanpa mengkaji sedikitpun tentang terang. Mereka terus berkerumun ditengah terang yang kebetulan mereka temukan. Yang dengan terang itu kemudian mereka mati. Sepertinya, laron juga kurang kritis tentang nilai mayoritas. Kalau banyak yang menuju huruf A, maka A menjadi benar, dan menjadi pilihan terbaik. Padahal tidak semua kebanyakan itu benar dan sebaliknya tidak semua yang sedikit itu salah. Nilai benar dan salah, baik dan buruk, tidak berbanding lurus dengan banyak dan sedikitnya. Dan terakhir, laron kurang membuka mata kalau aktifitas hidup tidak terkungkung pada dua garis besar gelap dan terang, hitam dan putih, karena Allah melengkapi hidup ini dengan keindahan seribu satu warna. Tapi, jadikan putih tetap sebagai dasar semua warna. Dan memang kenyataannya jika semua warna itu jika bergabung akan menghasilkan putih.
Tersebutlah kisah seekor anak elang yang belum bisa terbang. Ia hanya bisa menatap kehidupan bawah dari atas tempat ia tinggal. Satu hal yang membingungkan sianak elang semua gerakan itu tampak begitu lambat, bagaikan kombinasi titik yang bergerak lambat. “Kenapa sih…mereka tampak begitu lambat?” ujarnya dalam seribu satu keingintahuan. Ia pun mengangguk-angguk ketika beberapa elang dewasa memangsa hewan-hewan dibawah bukit itu dengan mudah. “tentu saja kena, mereka begitu lamban” gerutunya penuh yakin. “kamu tidak turun memangsa nak” kata salah satu elang dewasa didekatnya. “aku belum mahir terbang” jawab sianak elang seperti tak peduli. Ia masih disibukkan dengan berbagai keheranan, “mengapa hewan-hewan dibawah tampak begitu lambat ya?” tanyanya dalam hati. Disuatu hari yang cerah sianak elang akhirnya memaksakan diri belajar terbang. Ia mulai meluncurkan kedua sayapnya yang belum terpakai kecuali hanya untuk berlari disekitar sarang. “aku yakin bisa” ucapnya sambil menatap kebawah bongkahan batu-batu besar, menjulangnya pohon-pohon pinus menambah tantangan tersendiri buat sianak elang, dan ia pun mulai terbang. Diluar dugaan, tiupan angin besar tiba-tiba bertiup dari arah belakang. Karena belum pengalaman sianak elangpun terpelanting, ia menabrak salah satu dahan pinus. Bruuuk….tubuh sianak elangpun terperosok di semak-belukar. Salah satu sayapnya terluka. Baru kali itu sianak elang menginjakan kakinya didataran rendah, dan baru kali itu pula ia menyaksikan sendiri seperti apa gerakan hewan-hewan bawah dari arah dekat. “akh…selama ini aku salah, ternyata hewan-hewan itu bergerak begitu cepat. Cepat sekali” ucapnya penuh kekaguman. Ada kesenjangan lain dalam dunia kehidupan, antara dunia atas dengan dunia bawah. Antara mereka yang biasa menatap gerak kehidupan dari tempat tinggi dengan yang melakoni gerak kehidupan dari dunia bawah. Dua-duanya memilki kesimpulan yang sama yaitu “gerakan mereka begitu lambat”. Persoalannya mungkin sederhana, yaitu keasyikan berada di tempat-tempat tertentu atas atau bawah, menjadikan pandangan begitu terbatas. Jarak jika terus dalam jauh dan keasyikan jika terus dalam dunianya sendiri akan menyimpulkan kesimpulan yang seperti kesenjangan ini. Semoga kita tidak seperti yang dialami anak elang, yang baru memahami kesenjangan ketika keadaan memaksanya turun dari tempat atas.
Jum’at, 5 jan 2007, 11:00 Wib.
Disebuah desa tampak murid-murid madrasah sedang berbaris membentuk regu-regu barisan. Tiap regu memegang satu bendera yang terikat pada batang bambu berukuran satu meter. Rupanya mereka sedang mengikuti lomba gerak jalan keliling desa. Sebelum berangkat, seorang guru memberikan arahan, “anak-anakku perhatikanlah bendera kalian, jadikanlah ia sebagai dirimu sendiri” ujar sang guru singkat. Dan berangkatlah anak-anak itu, mereka bergerak begitu rapi serta tetap mengikuti arah bendera dibarisan depan. Jarak tempuh itu tergolong jauh untuk ukuran anak kota. Mereka melewati kampung-kampung, jalan raya antarkota dan berputar balik menuju tempat semula. Setelah dua jam berjalan barisan tidak lagi seperti ketika berangkat, ada yang akhirnya berbentuk segitiga, lingkaran, bahkan tidak berbentuk yang jelas alias kocar-kacir. Hanya satu yang tetap seperti semula yaitu bendera. Mungkin sebagian anak-anak menganggap kalau nasihat sang guru sebagai kata kunci “yang penting bendera”. Setelah semua regu tiba digaris finish, pemenang lombapun diumumkan,”pemenangnya regu padi” ucap sang guru disambut tepuk tangan. Beberapa murid mengangkat tangan “maaf pak, barisan regu padi memang rapi, tapi mereka beberapa kali tidak mengangkat bendera. Sementara kami terus mengangkat bendera. Bukankah bapak mengatakan yang penting bendera?” suara protes dari seorang murid. “Anakku….” ujar sang guru begitu wibawa, “kamu salah paham soal bendera, bendera bukan sekedar selembar kain yang terikat ditiang bambu. Bendera itu adalah citra, kamu sekalian adalah bendera yang berjalan” jelas sang guru begitu gamblang. Semua murid-muridpun terdiam. Ketika seseorang terikat dengan sesuatu diluar dirinya, bisa jadi agama, organisasi, korp, bisa jadi bendera bagi ikatannya. Baik buruk bendera sangat menentukan citra yang ia bawa. Seperti itulah musuh-musuh islam untuk menjelekkan islam yang sebenarnya bersih dan indah. Cukup dengan menyorot keterbelakangan umat islam, konflik yang tidak pernah habis, dan terakhir teroris. Islam yang indahpun tercitrakan buruk, islam menjadi ter-bendera-kan umatnya. Kita adalah bendera yang berjalan, yang semakin tinggi tiang bendera kian banyak yang mencitrakan kita. Jadi…bukan agama, organisasi, atau korp-nya yang buruk. Bendera-bendera itulah yang sangat mencitrakan, apakah sesuatu yang mengikatnya itu menjadi baik atau sebaliknya?.
Jawabnya: ADA, apa dalilnya?
Dalilnya;
1. dalil aqli(akal).
Dalil aqli dapat kita katakan sebagai berikut:
“Coba kita lihat alam semesta ini, yang ada dihadapan kita, yang kita saksikan. Dengan system yang sangat rapi dan teratur tidak akan mungkin bertabrakan dan saling berbenturan, tidak akan jatuh dan tidak akan lepas. System yang sangat rapi dan teratur, matahari tidak akan dapat bertemu dan bertubrukan dengan bulan, malam tidak akan mendahului siang. Mungkinkah alam yang sangat rapi sistemnya ini ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya, mengaturnya dan menjalankannya?” Ini secara akal tidak mungkin. Ada suatu kisah yang menarik, yang diriwayatkan oleh imam Abu Hanifah, Beliau adalah orang yang sangat terkenal pintar, tajam otaknya. Datanglah orang-orang sekuler padanya. Orang-orang sekuler ini berkata kepadanya, “coba buktikan bagi kami bahwa Allah itu ada?”, sang imam menjawab ”beri aku waktu untuk berfikir!!” tidak berapa lama kemudian sang imam berkata kepada mereka “aku sedang memikirkan sebuah kapal yang besar berlabuh dipelabuhan dujla. Kapal itu membawa barang bawaan yang sangat banyak. Lalu barang-barang bawaan itu turun tanpa ada yang menurunkannya, lalu kapal itu berangkat pergi tanpa ada yang menakhodainya” orang-orang sekuler bertanya “bagaimana mungkin hal itu terjadi? Itu tidak dapat dibenarkan oleh akal kami” maka sang imam mengatakan kepada mereka “jika kalian tidak bisa membenarkan hal itu, maka bagaimana kalian dapat membenarkan matahari, bulan, bintang, langit, bumi yang berjalan demikian teratur seperti ini, bukankah ini menunjukan bahwa ada yang mengaturnya? Ada yang menjalankannya? Dan ada yang menciptakannya?” maka yakinlah orang-orang sekuler tadi bahwa alam ini ada yang menciptakannya. Allah telah mengisyaratkan dalil aqli ini dalam firman-Nya pada surat thuur ayat 35, yang artinya “apakah mereka diciptakan tanpa ada yang menciptakannya?” atau mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”.
2. dalil hissi.
Contohnya adalah doa kita yang dikabulkan ketika kita berdoa. Ketika kita berdoa “ya Allah” lalu Allah mengabulkan doanya, menyingkirkan musibah yang menimpanya, memberikan permintaan yang dimohonkannya. Ini menunjukan bahwa Allah itu ada, mendengarkan doanya dan mengabulkannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 76 yang artinya “dan nuh, ketika dia berdoa sebelumnya dan Kami mengabulkan doanya”. Ketika kita berdoa kepada Allah kita yakin secara hissi bahwa doa kita akan ada yang mengabulkannya. Seandainya pencipta tidak ada maka tidak akan ada orang yang memohon dan berdoa kepada pencipta. Ia yakin ketika berdoa ada dzat yang kuasa untuk mengabulkan doanya.
3. dalil fitri (fitrah).
Secara fitrah manusia itu apabila tertimpa musibah, kesempitan, mudharat maka secara otomatis lisannya berucap “Ya Allah” atau sering kita dengar “Oh.. my God”. Jadi secara otomatis/fitrah dia akan mengatakan hal itu. Meskipun terkadang sebenarnya dia tidak meyakini adanya Tuhan. Allah telah mengisyaratkan hal ini didalam Al-Qur’an surat Al-Ankabuut ayat61, yang artinya “Bila kamu tanyakan kepada mereka ‘siapakah yang menciptakan langit dan bumi, yang menundukan matahari dan bulan?’ mereka mesti mmenjawab ‘Allah’, mengapa pula mereka berpaling dari-Nya?.”
4. dalil syar’i
dalil syar’I sangat banyak sekali didalam Al-Qur’an, misalnya firman Allah dalamsurat Al-Fatihah yang artinya “segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam” juga masih banyak dalam surat-surat yang lainnya. Juga dalam surat Ghaafir ayat 67, Allah berfirman yang artinya ”Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air mani, lalu dari segumpal darah, akhirnya Tuhan melahirkan kamu sebagai bayi, Ia biarkan kamu tumbuh mencapai usia dewasa, lalu menjadi tua. Ada diantaramu yang mati sebelum itu agar kamu sampai waktu yang ditentukan, dan hendaknya kamu dapat berpikir”.
Kisah ini menceritakan tentang seekor serigala yang terluka. Luka yang diderita serigala terjadi ketika serigala berusaha menolong harimau yang dikejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya, namun sayang sebuah panah yang terbidik mengenai kaki belakangnya. Kini hewan yang bermata liar itu tidak bisa lagi berburu. Ia tinggal disebuah goa jauh dari perkampungan penduduk. Sang harimaupun tahu bagaimana balas budi. Setiap selesai berburu, dimulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang, walau sedikit. Sang serigala selalu dapat bagian, sang harimau paham, tanpa bantuan sang serigala ia pasti sudah mati terpanah. Sebagai balasannya serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lain, walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok dipojok goa. Rupanya peristiwa itu telah sampai ketelinga seorang pertapa. Ia dan beberapa muridnya ingin melihat dan mengambil beberapa pelajaran. Dipagi hari berangkatlah mereka, setelah seharian berjalan sampailah mereka dimulut goa, tempat harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan harimau baru saja pulang dari berburu dan sedang memberikan sepotong daging kepada serigala. “Pelajaran apa yang dapat kalian ambil dari sana?” Tanya pertapa ke murid-muridnya. Seorang murid menjawab “guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan hamba-Nya lewat berbagai cara.” Sang pertapa tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, “lihatlah serigala ini, tanpa bersusah payah dia bisa tetap hidup dan mendapat makanan”. Ia menanti jawaban dari gurunya, “ia, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan. Tapi….berhentilah berharap menjadi serigala dan mulailah berlaku seperti harimau” tanggapam sang guru. Adalah benar bahwa Tuhan menciptakan ikan buat umat manusia. Tapi…apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan dalam kaleng-kaleng sarden? Saya percaya ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat kerja keras dan peluh dari para nelayan. Begitulah…acap kali dalam kehidupan ada fragben tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tidak salah jika disana kita akan menyaksikan kebesaran dan kasih sayang Tuhan. Namun,.. ada satu hal kecil yang patut diingat bahwa, berbagi, menolong, membantu, sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita, bukan karena hal itu suatu keterpaksaan, bukan juga karena didorong rasa kasihan dan ingin balas budi. Berbagi dan menolong memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan, sebab disana akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Didalam berbagi akan bersemayam keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan qalbu. Sahabat….jika kita bisa memilih berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh dan mulailah bermimpi menjadi harimau.
Pembaca yang semoga dirahmati Allah, telah kita ketahui bersama bahwa agama islam ini memiliki rukun-rukun, yang dikenal dengan istilah rukun islam. Yaitu syhadatain, sholat, zakat, puasa dibulan ramadhan dan haji ke baitullah. Dan tentu saja kelima rukun islam ini sendiripun memilki rukun dan syarat. Sebagai contoh, salah satu rukun sholat adalah takbiratul ihram. Dan salah satu syarat sholat adalah berwudhu. Kemudian mari kita perhatikan, bagaimanakah status orang yang tidak berwudhu atau tidak ber-takbiratul ihram? Tentu saja tanpa ragu lagi kita akan dengan mudah menjawab bahwa sholatnya tidak sah, atau sholatnya batal.
Oleh karena itu, mengapa kita tidak pernah berfikir bahwa syahadat Laa Ilaaha Illallah pun memilki rukun dan syarat? Lalu bagaimanakah kira-kira hukum syahadat yang tidak terpenuhi rukun dan syaratnya? Tentu saja, sama seperti kasus sholat tadi, maka syahadatnya batal dan tidak sah. Bahkan hal ini lebih fatal lagi, karena batal dan tidak sahnya syahadat ini akan berakibat orang tersebut telah keluar dari islam, meskipun ia merasa bahwa dirinya masih beragama islam. Oleh karena itu, sangat penting untuk kita ketahui apa sajakah rukun dan syarat dari syahadat Laa Ilaaha Illallah.
Orang kafir Quraisy saja mengetahui!!!
Perlu pembaca ketahui, orang-orang kafir pada zaman Rasulullah dahulu mengetahui bahwa orang yang mengucapkan kalimat tauhid harus memenuhi syarat-syaratnya sebelum mengucapkannya. Karena mereka merupakan orang yang ahli dibidang bahasa dan cukup menguasai bahasa arab yang sebenarnya. Oleh karena itu, ketika Rasulullah berkata kepada mereka,”katakanlah,’tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah’, niscaya kalian akan beruntung”(HR. Ahmad, shahih). Juga dalam firman Allah “Bila kamu tanyakan pada mereka ‘siapa yang menciptakan langit dan bumi, yang menundukan matahari dan bulan?’ mereka pasti menjawab ‘Allah’. Mengapa pula mereka berpaling dari-Nya?” (Al’ankabuut : 61). Maka merekapun mengatakan,
“mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja? Sungguh ini benar-benar mengherankan”.(QS. Shood:5).
Mereka enggan untuk mengucapkannya karena mereka sangat paham dengan syarat dan konsekuensi dari kalimat tauhid tersebut. Bandingkanlah dengan zaman sekarang ini, ada seseorang sangat gemar berzdikir “Laa Ilaaha Illallah” namun ia tidak memahami maknanya dengan benar bahkan perbuatan dan ucapannya sendiri mendustakan ucapannya. Oleh karena itu, syaikh Muhammad At-Tamimy rahimahullah berkata “tidak ada kebaikan pada diri seseorang muslim, dimana orang-orang kafir yang bodoh sekalipun lebih mengetahui kalimat “Laa Ilaaha Illallah” daripada dirinya” (kasyfusy syubuhat).
Syarat-Syarat Syahadat Laa Ilaaha Illallah.
Syahadat Laa Ilaaha Illallah memilki syarat-syarat yang harus terpenuhi agar menjadi sah, syarat-syarat tersebut adalah:
1. Mengetahui makna dan maksudnya (Al-‘Ilmu).
Seseorang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallah harus mengetahui makna dan maksudnya dengan benar. Barangsiapa yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallah namun tidak mengerti maknanya maka syahadatnya tidak sah dan tidak berguna, dia bukanlah orang islam. Hal ini berdasarkan firman Allah yang artinya,”maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Illah(sesembahan) yang berhak diibadahi selain Allah”(QS Muhammad:19). Pada ayat ini Allah memerintahkan kita untuk mengetahuidan memahami makna dari syahadat Laa Ilaaha Illallah.
2. Meyakini kandungannya (Al-Yaqin).
Orang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallah harus meyakini dengan seyakin-yakinnya, tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa hanya Allah-lah sesembahan satu-satunya yang benar dan sesembahan yang selainnya adalah bathil. Barang siapa yang ragu, maka ia menjadi munafik. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu”. (QS Al-Hujurat :15). Pada ayat ini Allah menyatakan bahwa orang-orang beriman adalah orang tidak mengalami keragu-raguan sedikitpun dalam keimanan atau dengan kata lain Ia meyakininya.
3. Menerima kandungan dan konsekuensinya (Al-Qobul).
Orang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallah harus menerima segala kandungan dan konsekuensinya, yakni menerima bahwa hanya Allah-lah sesembahan yang benar dan selain-Nya adalah sesembahan yang bathil. Barangsiapa yang tidak menerima kandungan dan konsekuensi syahadat ini, maka ia termasuk orang-orang kafir yang difirmankan Allah yang artinya “sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka,’ Laa Ilaaha Illallah’,mereka menyombongkan diri” (QS Ash-Shoffat). Yakni mereka tidak mau menerimanya.
4. Tunduk dan patuh terhadap kandungan maknanya (Al-Inqiyad).
Maksudnya adalah ia beribadah kepada Allah dengan syariat yang telah ditetapkan-Nya. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya “dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”(Az-Zumar:54). Barangsiapa yang mengucapkannya namun tidak mau beribadah kepada Allah dan tidak mau tunduk kepada syariat-Nya, maka syahadatnya tidak sah. Dia sama seperti iblis dan orang-orang kafir yang tidak mau tunduk kepada Allah.
5. Jujur dalam syahadatnya (Ash-Shidq).
Yaitu dia tidak hanya mengucapkan syahadat dengan lisan tetapi juga disertai dengan pembenaran syahadat ini didalam hati, hatinya sesuai dengan lisannya. Barangsiapa yang mengucapkan syahadat dilisan saja namun hatinya mengingkari, maka ia adalah munafik dan pendusta. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya “diantara manusia ada yang mengatakan,’kami beriman kepada Allah dan hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”(QS Al-Baqarah:8-10). Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa diantara manusia ada yang mengucapkan syahadat namun ucapan syahadat mereka itu hanyalah untuk menipu Allah dan orang-orang beriman, pada kenyataannya mereka adalah pendusta.
6. Ikhlas.
Yakni memurnikan seluruh ibadahnya hanya untuk Allah semata, membersihkan dari segala bentuk ksyirikan baik itu syirik kecil (seperti beramal karena ingin dipuja manusia) terlebih lagi syirik besar (seperti berdoa kepada orang-orang yang sudah mati). Hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya “padahal mereka tidak disuruh kecualisupaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (QS Al-Bayyinah:5).
7. Mencintai makna dan konsekuensinya (Al-Mahabbah).
Maksudnya adalah mencntai Allah, mencintai kalimat syahadat ini beserta isinya, dan juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensi syahadat ini (mencintai para nabi, rasul dan orang-orang shaleh) serta mengikuti jalan hidup mereka. Jika ia mengucapkan syahadat tanpa rasa cinta ini, maka ia masih kafir. Allah berfirman yang artinya “katakanlah,’jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’”.(QS Ali Imran:31).
Rukun Syahadat Laa Ilaaha Illallah.
Sebelumnya, marilah kita ketahui terlebih dahulu apakah makna yang benar dari syahadat Laa Ilaaha Illallah adalah “tiada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah semata”. Syahadat Laa Ilaaha Illallah memilki 2 rukun yaitu dari kalimat “ tiada sesembahan yang berhak untuk diibadahi” dan kalimat “kecuali Allah semata”.
Rukun pertama (nafi) diambil dari kalimat pertama maknanya adalah kita mengingkari dan menolak segala bentuk ibadah yang ditujukan kepada selain Allah atau dengan kata lain kita mengingkari dan menolak kesyirikan. Rukun kedua (itsbat/menetapkan) diambil dari kalimat “kecuali Allah semata” maknanya adalah kita menetapkan bahwa segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah saja. Sebagai contoh apabila seseorang bernadzar, berdoa ataupun menyembelih atas nama walisongo, nyi roro kidul dan semacamnya lalu ada orang-orang yang menganggap bahwa hal tersebut boleh-boleh saja, maka orang ini telah membatalkan kedua rukun dari syahadat ini meskipun bukan dia yang melakukan hal tersebut. Dengan kata lain di telah keluar dari islam (lebih-lebih orang yang melakukan nazdar, berdoa ataupun menyembelih atas nama selain Allah tadi).
Jika kita telah memahami hal ini, maka perlu kita ketahui bahwa kalimat “Laa Ilaaha Illallah” tidak akan pernah bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya, kecuali dengan menyatukan syarat-syarat ini secara keseluruhan, mengetahui syarat-syarat tersebut dan mengamalkan berbagai konsekuensinya, baik lahir maupun bathin. Sehingga syarat dan rukun “Laa Ilaaha Illallah” ini bukan hanya sekedar dihafal saja dan tidak melaksanakan konsukuensinya. Karena hal ini tidaklah bermanfaat baginya. Dengan kata lain syahadat tidak sah, yang berakibat tidak sah pula keislamannya. Wallahu ‘Alam.
Disalin dari bulletin jum’at At-Tauhid tgl 22 des 06.
Rabu 4 Oktober 2006, 04:37 WIB
Qois bin Al-Mulawwah berkata,
Cinta menghampiri sebelum ku mengenal arti cinta
Cinta telah membalikan hati yang hampa.
Sebagian filosof berkata, “kerinduan adalah kerasukan yang muncul didalam hati, yang terus bergerak dan tumbuh, kemudian bisa terarah dan menyatu dengan hasrat. Jika cinta buta itu semakin menguat, maka orang yang mengalaminya akan bertambah bergetar, gundah, dan ingin mendapatkan apa yang diharapkannya, sehingga seringkali menimbulkan keresahatan hati dan kekhawatiran. Sudah barang tentu aliran darah pada saat itu memusat diotak dan jantung. Jika aliran darah terlalu banyak memusat diotak, maka menimbulkan gangguan pikiran. Jika pikirannya terganggu, berarti akalnya sudah tidak terkontrol lagi. Dia bisa mengharapkan apa yang tidak mungkin terjadi, mengangan-angankan apa yang tidak tercapai, sehingga akhirnya menjurus kepada gila. Dalam keadaan seperti itu, boleh jadi orang yang dimabuk cinta bisa bunuh diri atau mati karena merana.
Apakah cinta buta itu timbul karena inisiatif ataukah karena ketetapan takdir? Sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair,
Dia tenggelam dalam cinta yang membara
Tatkala cinta menyusut dia tak berdaya
Dia melihat gelombang besar seperti riak ombak
Tatkala menggulung diapun tenggelam
Dia berharap dosanya menyusut
Namun dia tak lagi sanggup
Hal ini seperti orang yang dimabuk karena minum khamr. Perbuatan orang mabuk itu berdasarkan inisiatif sedangkan akibat perbuatannya yang mabuk itumerupakan ketetapan atau akibat yang pasti terjadi karena minum khamr. Selagi sebabnya terjadi karena inisiatif, maka dia tidak dimaafkan karena akibat yang terjadi kemudian diluar inisiatifnya. Selagi sebabnya merupakan sesuatu yang diperingatkan, maka mabuk itu bukan termasuk sesuatu yang dimaafkan.
Tidak dapat diragukan, mengumbar pandangan dan mengulur-ulur pikiran, serupa dengan mabuk yang minum khamr. Dia dicela karena sebabnya. Oleh karena itu jika seorang jatuh cinta karena sebab yang tidak diperingatkan, maka dia tidak dicela, seperti orang yang bercinta dengan istrinya, kemudian berpisah dengan membawa sisa cintanya yang masih melekat. Keadaan ini tidak dicela.
Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa mabuk cinta itu lebih parah daripada minum khamr. Allah berfirman tentang kaum luth yang mencintai rupa,
“demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing didalam kemabukan (kesesatan).”(al-hijr:72)
Ibnu qoyyim : Taman orang2 jatuh cinta dan memendam rindu
Kamis 14 september 2006, 20:35 WIB.
Tidak dapat disangsikan bahwa orang yang dicintai adalah sesuatu yang paling manis dimata orang yang mencintai dan lebih besar dari segala sesuatu. Seorang penyair berkata,
Aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat
Atau mungkin akalku yang tidak lagi ditempat.
Allah menjadikan penyebab kesenangan adalah keberadaan istri. Andaikata penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok, tentunya yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali. Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih memilih pasangan yang lebih buruk rupanya, padahal dia juga mengakui keelokan yang lain, meski begitu tidak ada kendala apa-apa didalam hatinya. Karena kecocokan akhlak yang paling disukai manusia, dengan kata lain kita mengetahui bahwa inilah yang paling penting dari segala-galanya. Memang bisa saja cinta tumbuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi yang pasti “cinta itu akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab”.
Ada satu hal yang menguatkan pendapat ini, kita tahu bahwa cinta itu bermacam-macam. Yang paling mulia adalah cinta orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Dalam surat Az-zukhruf ayat 67 Allah berfirman: “teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. Ada cinta yang bersemi saat sama-sama mencari lapangan kerja, karena ada kecocokan madzhab, karena ilmu yang dimiliki, cinta kekerabatan, cinta karena persahabatan, cinta karena sama-sama suka berbuat bajik kepada orang lain, cinta karena melihat kedudukan orang yang dicintai, cinta karena masing-masing mempunyai rahasia yang dipendam, karena untuk mendapatkan kenikmatan, cinta yang tidak disertai alasan yang pasti dan lain-lainnya.
Tapi sekali lagi yang jelas, “semua jenis cinta ini akan luntur jika penyebabnya luntur, menjadi mantap jika alasannya mantap, menyusut jka alasannya menyusut, membara karena saling berdekatan, mereda karena saling berjauhan, dan rasanya jauh dari gambaran cinta yang sejati didalam hati”.
Ibnu Qoyyim: Taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu