Anak elang.
Tersebutlah kisah seekor anak elang yang belum bisa terbang. Ia hanya bisa menatap kehidupan bawah dari atas tempat ia tinggal. Satu hal yang membingungkan sianak elang semua gerakan itu tampak begitu lambat, bagaikan kombinasi titik yang bergerak lambat. “Kenapa sih…mereka tampak begitu lambat?” ujarnya dalam seribu satu keingintahuan. Ia pun mengangguk-angguk ketika beberapa elang dewasa memangsa hewan-hewan dibawah bukit itu dengan mudah. “tentu saja kena, mereka begitu lamban” gerutunya penuh yakin. “kamu tidak turun memangsa nak” kata salah satu elang dewasa didekatnya. “aku belum mahir terbang” jawab sianak elang seperti tak peduli. Ia masih disibukkan dengan berbagai keheranan, “mengapa hewan-hewan dibawah tampak begitu lambat ya?” tanyanya dalam hati. Disuatu hari yang cerah sianak elang akhirnya memaksakan diri belajar terbang. Ia mulai meluncurkan kedua sayapnya yang belum terpakai kecuali hanya untuk berlari disekitar sarang. “aku yakin bisa” ucapnya sambil menatap kebawah bongkahan batu-batu besar, menjulangnya pohon-pohon pinus menambah tantangan tersendiri buat sianak elang, dan ia pun mulai terbang. Diluar dugaan, tiupan angin besar tiba-tiba bertiup dari arah belakang. Karena belum pengalaman sianak elangpun terpelanting, ia menabrak salah satu dahan pinus. Bruuuk….tubuh sianak elangpun terperosok di semak-belukar. Salah satu sayapnya terluka. Baru kali itu sianak elang menginjakan kakinya didataran rendah, dan baru kali itu pula ia menyaksikan sendiri seperti apa gerakan hewan-hewan bawah dari arah dekat. “akh…selama ini aku salah, ternyata hewan-hewan itu bergerak begitu cepat. Cepat sekali” ucapnya penuh kekaguman. Ada kesenjangan lain dalam dunia kehidupan, antara dunia atas dengan dunia bawah. Antara mereka yang biasa menatap gerak kehidupan dari tempat tinggi dengan yang melakoni gerak kehidupan dari dunia bawah. Dua-duanya memilki kesimpulan yang sama yaitu “gerakan mereka begitu lambat”. Persoalannya mungkin sederhana, yaitu keasyikan berada di tempat-tempat tertentu atas atau bawah, menjadikan pandangan begitu terbatas. Jarak jika terus dalam jauh dan keasyikan jika terus dalam dunianya sendiri akan menyimpulkan kesimpulan yang seperti kesenjangan ini. Semoga kita tidak seperti yang dialami anak elang, yang baru memahami kesenjangan ketika keadaan memaksanya turun dari tempat atas.

Comments