My Photo
Powered by Friendster Blogs

« islam2 sempalan!!! | Main | Menyorong rembulan »

Pemuja cinta vs Pencela cinta

Pemuja cinta berkata:

Siapa yang tidak mau mencicipi manisnya cinta , tidak akan bisa menikmati kehidupan ini. Kesempurnaan kenikmatan mengekor kepada kesempurnaan cinta. Orang yang paling bisa  menikmati sesuatu ialah yang paling mencintai sesuatu itu. Allah membuat para nabi dan rasul-Nya mencintai istri dan kekasihnya.

Menurut golongan ini, cinta itu bisa mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta itu merupakan ujian bagi orang yang shalih. Cinta merupakan timbangan akal dan rasa. Cinta merupakan ciptaan yang mulia, sebagaimana yang dikatakan dalam syair,

Bukan karena dorongan nafsu kubangkitkan cinta
Tapi kulihat cintu itu adalah akhlak yang mulia

Menurut mereka, ruh-ruh orang yang dimabuk cinta adalah titik-titik embun yang lembut. Tubuh mereka ringan dan lemas. Pasangan mereka menjadi lamban untuk diarahkan. Bisa tenang jika sudah bersanding dan mengikatkan tali cinta. Ucapan mereka tertanam dipikiran, menggerakkan jiwa, mengguncang ruh dan tidak sedikit para cerdik pandai yang membicarakan keadaan mereka.

Sebagian orang berkata “cinta bagi ruh sama dengan kedudukan makanan bagi badan. Jika engkau meninggalkannya tentu akan membahayakan dirimu, dan jika engkau terlalu banyak menyantapnya tentu ia akan membinasakanmu”.

Sebagian yang lain mengatakan “ia mendorong penakut menjadi pemberani, orang kikir menjadi dermawan, mencuci pikiran orang yang dungu, memfasihkan lidah yang gagap, membangkitkan keinginan orang yang lemah, merendahkan kehormatan para raja, menampakkan kehebatan para pemberani, merupakan pintu pertama yang membelah pikiran dan kecerdikan, karenanya ada tipu daya yang halus, gejolak menjadi tenang, akhlak dan kepribadiaan menjadi tertata, ada kegembiraan yang menari-nari didalam jiwa dan kesenangan yang bersemayam didalam hati”.

Al-abbas bin Al-ahnaf berkata dalam syairnya,

Tiada manusia yang tiada memiliki cinta
Tiada kebaikan bagi orang yang tiada cinta

Yang lain berkata,

Tiada keindahan dan kenikmatan didunia
Jika engkau menyendiri tanpa perasaan cinta.

Ali bin abdah berkata “tak mungkin seseorang bisa menghindari cinta, kecuali orang yang kasar perangainya, kurang waras atau tidak mempunyai gairah”


Pencela cinta berkata:

Allah berfirman:

Ya Rabb kami, janganlahEngkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maafkan kami”. (al-baqarah: 286)

Beban dalam ayat diatas ditafsiri dengan cinta. Yang dimaksud bukan pengkhususannya, tetapi maksudnya adalah cinta yang tidak sanggup dipikul oleh manusia. Menurut makhul, artinya dorongan birahi yang kuat.

Sabda rasulullah saw,

Tidak selayaknya seseorang merendahkan dirinya sendiri” (HR. ahmad)

Menurut imam Ahmad, penafsirannya: tidak selayaknya seseorang menantang cobaan yang tidak sanggup dia pikul. Hal ini sama dengan keadaan orang yang jatuh cinta. Sebab dengan begitu dialah orang yang paling rendah dihadapan orang yang dicintai, agar memperoleh ridhonya, karena  dasar cinta adalah merendahkan diri dan tunduk kepada kekasih, sebagaiman dikatakan seorang penyair,

Dulu kami melihatmu terhormat dan mulia
Tiada heran jika menjadi hina karena orang yang dicintai
Usah pungkiri kehinaan mereka yang jatuh cinta
Rela merunduk karena mengharap ridho kekasih tercinta

Yang lain berkata,

Permulaan cinta indah menawan hati
Akhirnya kematian laksana permainan
Ia bermula dari pandangan dan canda
Menyala dihati laksana bara api
Seperti api yang bermula dari percikan
Jika membesar ia akan membakar semua kayu

Penyair lain berkata,

Mataku mengalirkan airmata darah
Setelah air mata itu habis tercurah
Duka nestapa ada dibadan yang kurus kering
Sebagian malam yang sepi datang mengiring
Aku lalai beberapa waktu telah lama berlalu
Waktu berganti dan ingatan tetap menyatu

Sebagian yang lain berkata,

Karena cinta dia menjadi hamba
Padahal sebelumnya dia adalah raja
Kegarangan istana tiada lagi menyertai
Dia dipuncak gunung menyendiri sendiri
Pipi tertempel ditanah berdebu
Seakan bantal-bantal sutra untuk bertumpu
Begitulah kehinaan menimpa orang yang merdeka
Jika cinta menimpa dia laksana hamba sahaya

Menurut golongan ini berapa banyak cobaan cinta yang membenamkan kepala kedalam siksa neraka, menuntun mereka kepada derita yang pedih dan kegelas mereka dituangkan api yang mendidih? Berapa banyak cobaan cinta yang mengeluarkan manusia dari medan ilmu dan agamanya, seperti keluarnya selembar rambut dari tepung? Berapa banyak cobaan cinta yang menghilangkan nikmat dan mendatangkan derita? Berapa banyak orang yang turun dari tahta kehormatan hingga menjadi orang yang hina karena cinta, dan berapa banyak orang yang tadinya berkedudukan tinggi namun kemudian hanya memilki kedudukan yang rendah? Berapa banyak aurat yang terbuka, derita yang muncul kemudian hari, kegelisahan yang mendera pada akhirnya hanya ada penyesalan?


Keputusan Hukum Tentang Dua Golongan Dan Menuntaskan Perbedaan Diantara Keduanya.

Dapat dikatakan, cinta itu tidak bisa dipuja secara mutlak dan tidak bisa dicela secara mutlak pula. Cinta dapat dipuja dan dicela menurut pertimbangan kaitannya. Sebab kehendak tergantung kepada yang dikehendaki, cinta tergantung kepada apa yang dicintai. Selagi apa yang dicintai termasuk sesuatu yang memang layak dicintai, atau sebagai sarana untuk menghantarkan kepada apa yang layak dicintai, maka cintanya yang berlebih-lebihan tidak akan dicela dan bahkan dipuji. Kebaikan keadaan orang yang mencintai juga tergantung kepada kekuatan cintanya.

Maka dari itu kebaikan hamba yang paling besar ialah jika dia mengalihkan semua kekuatan cintanya kepada Allah semata, sehingga dia mencintai Allah segenap hati, ruh dan raganya. Dia menunggalkan kekasihnya dan menunggalkan cintanya. Menunggalkan kekasih artinya tidak membilang-bilang apa yang dicintainya. Dan menunggalkan cinta artinya tidak menyisakan cinta didalam hati sehingga dia berani berkorban demi cintanya. Cinta seperti inilah yang menjadi tujuan kebaikan manusia, puncak kenikmatan dan kesenangan hatinya. Hatinya tidak merasakan memiliki kenikmatan kecuali menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang paling dia cintai dari pada yang lain. Cintanya kepada selain Allah mengikuti cintanya kepada Allah. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah, sebagaimana dalam sebuah hadist,

“Tiga perkara, siapa yang tiga perkara itu ada padanya, maka dia mendapatkan manisnya iman, yaitu: siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya. Siapa yang mencintai seseorang, dia tidak mencintainya melainkan karena Allah. Siapa yang enggan kembali kepada kekufuran itu, sebagaimana dia enggan untuk dilemparkan kedalam neraka.” (HR. bukhari, muslim, at-tirmidzy, dan an-nasa’y)

                 Ibnu Qayyim Al-jauziyah: Taman orang2 jatuh cinta dan memendam rindu

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .