My Photo
Powered by Friendster Blogs

« Pemuja cinta vs Pencela cinta | Main | kesadaran »

Menyorong rembulan

Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita, matahari berada pada suatu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai kepermukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi, sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari kepermukaan bumi. Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan. Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik, cendikia, para pujangga dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendaya gunakannya dibumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita. Dan didalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas, orang menyangka kepala adalah kaki, orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain, orang tidak sengaja menjegal satu sama lain dan atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain. Didalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah, akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.

Ilir-ilir kita memang sudah ngelilir, kita sudah bangun, sudah bangkit bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur didalam aliran-aliran darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kebencian kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa zhalim untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yakni melarangnya untuk insyaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis yakni kita halangi dirinya untuk memperbaiki diri. Siapakah selain setan, iblis dan dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia, yang memblokade pintu surga,  yang menyorong mereka mendekat kepintu neraka.

Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas, sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan. Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan melainkan asyiknya perpecahan, yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan prasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelengarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri. Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta melainkan memepersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahaya atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser kealam yang lebih tepat agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke bumi.

Emha Ainun Nadjib

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .